Sering kita dapati, keluhan-keluhan yang terlontar dari lisan saudara-saudara kita yang memiliki pekerjaan. Bahwa pendapatan yang mereka terima, tidaklah sebanding dari apa-apa yang telah mereka berikan untuk pekerjaan itu. Sudah melaksanakan tanggung jawab dengan porsi yang besar, namun dibayar hanya sekian. Setidaknya, seperti itulah menurut penilaian mereka.
Di lain waktu, ada yang diberikan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih dari kebanyakan orang. Namun, apa-apa yang diberikannya kepada pekerjaan yang sedang ia geluti tidaklah sebanding dengan apa yang ia terima. Tidak tepat waktu. Bekerja seadaanya, bahkan dibarengi rasa malas.
Lalu pertanyaannya, selama ini bekerja untuk apa? Bekerja untuk siapa?
Dalam Islam, bekerja adalah sebuah wujud ibadah kepada Allah. Pekerjaan akan bernilai ibadah, jika ia dikerjakan atas dasar niat yang benar dan baik. Hanya berharap ridhoNya semata. Bekerja dengan niat agar mampu menafkahi diri sendiri dan tidak membebani siapapun, adalah disukai Allah dan RasulNya. Bekerja dengan sebuah landasan pemikiran, bahwa ia adalah bentuk rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Allah, maka itupun adalah hal yang dicintai Allah dan RasulNya.
Dan jika bercermin dari keluhan-keluhan yang seringkali kita dengar, bukankah itu adalah proses bekerja yang dilakoni hanyalah demi penghasilan semata? Demi segenggam dunia yang pada akhirnya akan ditinggalkan? Ataukah demi mendapatkan popularitas semata? Bekerja, hanyalah sebuah rutinitas yang menunggu perputaran waktu, menerima slip penghasilan. Terus berputar seperti itu setiap saat. Menyandarkan harapan kepada deretan angka yang fana.
Mari, melihat menggunakan kacamata iman.
Melihat sebuah pekerjaan dengan kacamata iman, akan membuat diri menempatkan pekerjaan menjadi sebuah jalan untuk mengumpulkan keberkahan. Pekerjaan adalah wujud kasih sayang Rabb Semesta Alam yang menjadikan seseorang tak lagi menjadi beban untuk saudaranya yang lain.
Memaknai pekerjaan dengan pemahaman iman, akan membuat diri melihat bahwa sebuah pekerjaan adalah sebuah kesempatan besar yang disediakan Rabb Yang Maha Kaya. Kesempatan untuk terlibat dengan lebih banyak orang, menjalin ukhuwah, lalu kesempatan untuk menyebarkan kebenaran Islam ke lebih banyak orang. Lewat kata-kata, akhlak perbuatan, juga lewat pemahaman-pemahaman. Ya, bukankah dengan bekerja, kita memiliki kesempatan untuk terhubung dengan lebih banyak orang. Yang pada akhirnya membuat kesempatan untuk membentuk peradaban yang Islami juga semakin besar.
Melihat sebuah pekerjaan dari kacamata iman, akan membuat jiwa tersadar, bahwa upah tertinggi dari sebuah pekerjaan adalah ridho Rabb Yang Maha Penyayang. Deretan angka di atas selembar kertas adalah semata jalan untuk menggapai kasih sayangNya yang lain. Deretan angka yang akan menghadirkan suasana tenang dan damai di hati, jika ia dihabiskan untuk kepentingan-kepentingan sosial, sesuai dengan yang dicontohkan RasulNya. Jika deretan angka tidaklah sesuai dengan yang diharapkan, mari berharap iman akan menuntun tuk tidak berkeluh kesah. Mungkin, kondisi saat ini hanyalah ujian tuk sesuatu lebih besar di depannya. Bekerjalah dengan rasa nikmat. Bekerjalah, dengan keyakinan, bahwa pemilik tempat kita bekerja saat ini sejatinya adalah Allah Yang Maha Memiliki, meskipun wujud fisiknya hanyalah manusia. Apakah pemimpinmu adalah muslim atau bukan, tetaplah bekerja dengan semata-mata mengharap ridho Allah. Jika pun apa yang didapat tidaklah sesuai dengan yang diharapkan, bukankah itu juga adalah rezeki? Kita menjadi tahu langkah apa yang harus dipersiapkan dan dilakukan, untuk menuju sesuatu yang lebih pantas.
Hari ini, masihkah mengeluh soal pekerjaan yang sedang digeluti? Maka ingatlah bagaimana cara Rasulullah dan sahabat beliau bekerja. Petiklah hikmah dari bagaimana mereka memaknai pekerjaan. Siapa tahu, sibukmu hari ini, adalah cara Allah melibatkanmu dalam rencana-rencanaNya. Rencana tuk membuat sauradamu yang lain menikmati kebahagiaan. Siapa tahu, lelahmu hari ini, adalah cara Allah untuk melibatkanmu dalam sesuatu yang lebih mulia. Memastikan hak yatim untuk sampai tepat waktu umpamanya. Ataukah siapa tahu, saat ini engkau sedang ditempatkan dalam sebuah rencanaNya, tuk menjadi perantara hidayah kepada orang lain.
Dirimu, bekerja karena Allah bukan?
arya.poetra
Makassar, 29 Ramadhan 1438H
Makassar, 29 Ramadhan 1438H
![]() |
| sumber gambar |
Setelah pesawat mendarat, saya pun menuju loket di dekat pintu keluar bandara untuk memesan taksi. Dan setelah menunggu sekian waktu, pintu taksi pun saya buka. Masuk dan menaruh barang-barang, lalu duduk dengan nyaman, mengandalkan pak supir untuk membawa saya ke tempat tujuan.
Di dalam taksi, udara terasa agak dingin untuk saya yang tidak terbiasa (tidak senang sebenarnya) menggunakan AC. Saya melirik pak supir. Pria yang sudah berkeluarga, pikir saya. Dari raut wajahnya, saya beranggapan, bahwa pak supir adalah tipe orang yang bakalan diam selama perjalanan. Ditambah dengan kumisnya yang lebat, dan tekstur kulit di wajahnya yang menyiratkan bahwa ia adalah pria dengan segudang pengalaman dalam hidup.
Taksi melaju dengan tenang. Tidak tergesa.
Keheningan selama perjalanan akhirnya membuat saya gusar. Dan karena penasaran, maka saya pun memutuskan untuk menyapa duluan. Menanyakan, di tahun ini, pak supir bakalan berlebaran dimana. Prasangka saya sebelumnya pun akhirnya runtuh. Kaca cermin mobil memantulkan raut wajah yang begitu akrab. Lengkap dengan senyuman pak supir yang begitu ikhlas. Sangat terlihat, rasa senang mewarnai ekspresi beliau. Bapak itu pun menjawab pertanyaan saya, bahwa Insya Allah ia akan berlibur di kampung halamannya, Wajo.
Cairnya suasana pun membuat percakapan mengalir dengan sendirinya. Cerita-cerita beliau yang telah menjadi supir selama lebih dari 15 tahun. Akhlak manusia yang seharusnya terhadap pemberian Allah. Jalan-jalan yang dilalui, yang puluhan tahun silam adalah daerah resapan air bagi kota, yang hari ini telah berdiri bangunan-bangunan di atasnya. Sikap konsumtif masyarakat kebanyakan yang jauh dari hidup sederhana dan membiasakan diri untuk berbagi dan mendahulukan orang lain. Kisah-kisah perjuangan hidup. Kesenangan beliau terhadap keputusan ahli-ahli agama negeri ini terkait penetapan awal Ramadhan yang tak lagi berbeda dua tahun terakhir. Hingga ketidakpuasan karena masih banyak mereka yang mengaku ulama, namun tidak bersikap layaknya tuntunan Rasulullah..
Sejenak saya terbayang sifat percakapan para penghuni surga yang tercantum dalam Al Qur'an. Bahwa di sana kelak, tidak akan didapati percakapan yang tidak berguna. Yang ada hanyalah ucapan-ucapan yang baik lagi menyenangkan hati. Jika saat di dunia saja percakapan saya dengan pak supir terasa sebegitu menyenangkannya, bayangkan percakapan di surga kelak. Insya Allah.
Waktu memang bekerja dengan sangat rapi. Beberapa hari yang lalu, saya masih duduk di depan monitor kantor. Berkutat dengan desain-desain arsitektur. Beberapa jam kemudian, tibalah saya di kota kelahiran saya. Ditambah, dipertemukan dengan sebuah diskusi, yang saya percaya disediakan semesta untuk saya jadikan pembelajaran.
Betapa prasangka adalah hal yang paling sering mewarnai keseharian manusia. Ia tidak nampak, dan sekilas terasa menyenangkan bagi manusia yang dihinggapinya. Padahal, ia lah yang akan menjatuhkan hati ke dalam dosa. Prasangka adalah salah satu hal yang paling sering melalaikan hati, karena membuat manusia menilai tanpa ilmu, tanpa tahu apa yang sedang dinilainya.
Sungguh Allah telah mengingatkan kita dalam kitabNya. Bahwa sebagian prasangka itu adalah dosa. Dengannya, bisa jadi kita akan membandingkan. Lalu, tanpa terasa, rasa syukur perlahan menghilang. Ataukah rasa sombong perlahan tumbuh menjadi benalu.
Jika kemudian prasangka tidak baik menghampiri, tepuk pundaknya. Beri isyarat agar ia ke belakang. Biarkan prasangka baik yang berdiri di depan, menggantikan si prasangka buruk.
arya.poetra
Makassar, 27 Ramadhan 1438H
Bismillah.
Semoga aksara-aksara yang lahir dari rahim pemahamanmu senantiasa dituntun oleh hidayahNya. Melahirkan inspirasi bagi saudara-saudaramu, yang dituntunNya singgah di rumah aksaramu, lantas menjadi sebab kebaikan-kebaikan hadir dan melekat pada mereka.
Semoga niat-niat kebaikan senantiasa menjadi sebab tinta menggurat kalimat-kalimat. Niat tulus yang semata berharap akan senyuman Rabb nya. Senyuman, yang akhirnya menjadikan Cinta dan AmpunanNya turun, menghujanimu dengan begitu derasnya. Khilaf pun tergerus, hanyut, dan meninggalkan sejuk yang kan membuatmu nyaman.
Semoga kisah-kisah dari mereka yang telah dicintai Rabb nya terus menjadi telaga inspirasimu. Mencipta jembatan hidayah, yang kan membawamu melintasi masa lalu, tuk lebih mencintai semua keagunganNya. Juga tuk semakin mengenal RasulNya. Belajar tuk lebih mementingkan urusan saudara-saudaramu.. Belajar tuk mengasingkan jiwa dari silaunya dunia.. Belajar tuk tetap lurus dan istiqomah..
Dan semoga tarian aksaramu menjadi sebab hadirnya rasa cinta di dalam jiwamu, juga jiwa saudara-saudaramu. Cinta yang kan menuntun menuju rasa yang sangat berbeda dari jutaan rasa yang pernah engkau temui.. Rasa yang kan menjadi pengendali, agar tetap berjalan di atas jalur-jalur yang penuh dengan keridhoanNya..
Hei engkau.
Menulislah. Karena Allah.
Berkaryalah, atas nama agama Rabb mu.
arya.poetra
Jakarta, 19 Ramadhan 1438H
Di lautan nikmat, dua makhluk berpisah. Yang satu tenggelam, yang satu menyelam. Engkau tahu apa bedanya?
(Salim A. Fillah)
![]() |
| sumber gambar |
Banyak yang pasang badan melindungi, membela isme buatan manusia.
Meskipun benar-benar nyata, ia adalah bentuk penghinaan dan kedzholiman.
Yang munafik pun ikut mengabdi pada sistem yang begitu riuh menjanjikan mereka kemewahan dunia.
Demi hasrat diri sendiri kah?
Demi hasrat orang lain kah?
Demi itu, rela membenturkan kepala sendiri?
Demi itu, rela membenturkan kepala saudaramu?
Demi (si)apa?
arya.poetra
Jakarta, 14 Ramadhan 1438H
Ya Allah.
MencintaiMu, adalah cara terbaik bagi kami untuk menjaga hati. Agar tak lalai pada yang sementara.. Agar terus merangkul lebih banyak kebaikan, demi pertemuan yang syahdu dengan ampunanMu..
Ya Allah.
Bersandar padaMu, adalah cara terbaik bagi kami agar tak jatuh pada jurang kesedihan dan keputusasaan. Karena Engkau senantiasa memberi kabar gembira tuk membuat kami tersenyum..
Ya Allah.
Menggantungkan harapan hanya kepadaMu, adalah cara terbaik bagi kami agar terlindungi dari kekecewaan. Karena doa adalah penawar kepenatan terbaik yang Engkau hadiahkan kepada kami. Dan karena doa adalah sumber energi yang kan membangun semangat yang berlapis.
Ya Allah.
Cintai kami. Tambahkanlah ilmu kami. Terimalah amal kami.
Ya Allah.
Cintai kami. Tambahkanlah ilmu kami. Terimalah amal kami.
arya.poetra
Jakarta, 14 Ramadhan 1438H
![]() |
| sumber gambar |
Semoga Allah menguatkan semua niatan baik. Memupuk dengan keberkahan-keberkahan milikNya. Menjadikan kebaikan-kebaikan kemudian bercabang dan melahirkan buah-buah yang manis.
Semoga doa-doa yang tulus dan ikhlas senantiasa menemani setiap ikhtiar. Menjadikan setiap langkah adalah jalan ibadah. Menjadikan semua harap melaju dengan tenang, di tengah hingar bingar yang mencoba melalaikan.
Dan semoga keyakinan terus bertumbuh. Tatkala meniti jalan-jalan yang penuh dengan warna keridhoanNya. Lantas menjadi sebab, lengan-lenganNya menggenggam erat dan menuntun kala langkah sedang tertatih.
Sudah memasuki pertengahan Ramadhan.
Kokohkan niatmu. Tetaplah tabah, demi mendulang berkah.
Dan semoga keyakinan terus bertumbuh. Tatkala meniti jalan-jalan yang penuh dengan warna keridhoanNya. Lantas menjadi sebab, lengan-lenganNya menggenggam erat dan menuntun kala langkah sedang tertatih.
Sudah memasuki pertengahan Ramadhan.
Kokohkan niatmu. Tetaplah tabah, demi mendulang berkah.
arya.poetra
Jakarta, 14 Ramadhan 1438H
![]() |
| sumber gambar |
Terkadang, ilmu sebegitu ingin meluruskan yang salah lewat perbendaharaan kata. Pun terkadang, ketidaktahuan sebegitu ingin dinasehati dengan lisan. Namun, hasil yang diharapkan oleh kata dan lisan seringkali berbicara lain.
Kepedulian belum bersambut perubahan. Kegerahan makin menjadi, karena yang hendak diajari belum membuka hati.
Di luar sana, banyak yang berdakwah, mengajari semata dengan lisannya. Lisan yang terkadang malah berujung sebuah luka, membawa prasangka, lalu akhirnya menguapkan rasa percaya. Hei diri, bukankah perbuatan baik akan lebih membekas dan menggerakkan hati orang lain (atas izin Allah) jika ia mewujud sebuah keteladanan?
Wahai diri, berusahalah tuk menjadi yang terdepan jika menyoal keteladanan. Bukankah dengan keteladanan, bunga-bunga iman akhirnya kan merekah dengan ikhlas? Bukankah lewat keteladanan pula, rasa percaya lantas akan tumbuh dengan digdaya?
arya.poetra
Jakarta, 13 Ramadha 1438H
![]() |
| sumber gambar |
Di dalam Al-Fatihah yang engkau lantunkan setiap harinya, seberapa besar dan tulus keinginanmu untuk ditunjukiNya jalan yang lurus? Dan ketika engkau melantunkannya, apakah terbayangkan olehmu, sebuah jembatan akan menunggu untuk engkau lalui. Semua pinta yang mengudara pastilah berharap mampu melewatinya. Lalu, bagaimana jika tidak, lantas engkau terjatuh?
Akan tiba hari itu, dimana semua penyesalan takkan lagi didengarkan.. dimana semua kebaikan akan menunggu giliran perhitungan. Menunggu menjadi begitu menyesakkan, dengan segala ketidakpastiannya.. Apakah tangan akan menerima catatan dengan kebaikan yang terhitung lebih banyak. Ataukah sebaliknya, keburukan yang terhitung lebih banyak akhirnya menjadikanmu hina..
Hari ini, mungkin engkau akan menunda. Karena pikirmu, masih ada hari esok untuk menghitung amal. Hari ini, mungkin engkau akan lalai. Beramal dengan penuh perhitungan. Hari ini, mungkin engkau akan jenuh. Karena prasangkamu, rasa ikhlas belumlah berbalas.
Lantas, bagaimana jika esok di hari perhitungan, engkau datang tanpa membawa seonggok amal?
Akan tiba hari itu, dimana semua penyesalan takkan lagi didengarkan.. dimana semua kebaikan akan menunggu giliran perhitungan. Menunggu menjadi begitu menyesakkan, dengan segala ketidakpastiannya.. Apakah tangan akan menerima catatan dengan kebaikan yang terhitung lebih banyak. Ataukah sebaliknya, keburukan yang terhitung lebih banyak akhirnya menjadikanmu hina..
Hari ini, mungkin engkau akan menunda. Karena pikirmu, masih ada hari esok untuk menghitung amal. Hari ini, mungkin engkau akan lalai. Beramal dengan penuh perhitungan. Hari ini, mungkin engkau akan jenuh. Karena prasangkamu, rasa ikhlas belumlah berbalas.
Lantas, bagaimana jika esok di hari perhitungan, engkau datang tanpa membawa seonggok amal?
Entah, sudah berapa banyak pertemuan tercipta di bumiNya ini. Ada pertemuan yang direncanakan dengan begitu matang. Ada juga yang bersua karena tak disengaja. Ada pertemuan yang tercipta, sebab sebuah ucapan menjadikannya seikat. Tak ketinggalan ada pertemuan yang hadir membonceng rindu.
Rasanya, untuk setiap pertemuan, anak-anak manusia sungguh berharap ia nyata sesuai inginnya. Karenanya, mereka mampu mencipta tawa. Karenanya, mereka dapat mengundang bahagia yang bertumpuk-tumpuk.
Lantas bagaimana jika ia tidak sesuai harapan. Amanah berbalas dusta ataupun khianat. Ucapan baik berbalas amarah, bahkan makian. Jika peduli tak diketahui, bahkan diingkari. Bagaimana jika janji-janji tak pernah berujung pada bukti. Jika senyumanmu bersambut prasangka. Atau ketika candaan meninggalkan gores yang harus engkau jahit dengan tangisan.
Akankah menaruh benci pada pribadinya? Ya, rasanya itu adalah pilihan yang sangat mudah. Begitu menggoda untuk dilakukan. Namun wahai diri, aku menulis ini hendak mengingatkanmu, juga mengingatkan saudara-saudaramu yang lain di luar sana. Cukuplah engkau membenci sifatnya. Cukuplah engkau tak suka kepada perangainya. Janganlah engkau membalas luka, juga dengan luka. Janganlah engkau membenci pribadinya. Karena bisa saja tanpa engkau tahu, ada amalan ia yang lebih baik dari amalan yang engkau kerjakan. Bukankah Ramadhan hadir untuk memberitahumu perihal ini? Bahwa dalam perjalananmu, akan ada hal-hal yang datang untuk menguji. Bukankah Ramadhan hadir membawa pesan bahagia, bahwa akan ada manis yang melegakan ketika engkau memilih bersabar dan bersandar padaNya.
Sebab Allah selalu memiliki rencana untuk setiap pertemuan.
Pertemuan, terkadang ia hadir untuk menyempurnakan. Melengkapi apa yang kurang dari dirimu. Pertemuan, terkadang ia datang untuk mendewasakanmu, dengan beragam wujudnya. Menakar keyakinan, juga rasa percayamu. Ia akan selalu mengajakmu untuk mendengarkan dan memahami. Berharap ada hikmah yang dapat engkau petik untuk menjadi yang pantas mendulang berkah.
Wahai diri, jika luka kemudian menghiasi pertemuanmu, tetaplah menyibukkan dirimu dengan kebaikan. Tetaplah bertumbuh dalam kesabaran.
Lantas bagaimana jika ia tidak sesuai harapan. Amanah berbalas dusta ataupun khianat. Ucapan baik berbalas amarah, bahkan makian. Jika peduli tak diketahui, bahkan diingkari. Bagaimana jika janji-janji tak pernah berujung pada bukti. Jika senyumanmu bersambut prasangka. Atau ketika candaan meninggalkan gores yang harus engkau jahit dengan tangisan.
Akankah menaruh benci pada pribadinya? Ya, rasanya itu adalah pilihan yang sangat mudah. Begitu menggoda untuk dilakukan. Namun wahai diri, aku menulis ini hendak mengingatkanmu, juga mengingatkan saudara-saudaramu yang lain di luar sana. Cukuplah engkau membenci sifatnya. Cukuplah engkau tak suka kepada perangainya. Janganlah engkau membalas luka, juga dengan luka. Janganlah engkau membenci pribadinya. Karena bisa saja tanpa engkau tahu, ada amalan ia yang lebih baik dari amalan yang engkau kerjakan. Bukankah Ramadhan hadir untuk memberitahumu perihal ini? Bahwa dalam perjalananmu, akan ada hal-hal yang datang untuk menguji. Bukankah Ramadhan hadir membawa pesan bahagia, bahwa akan ada manis yang melegakan ketika engkau memilih bersabar dan bersandar padaNya.
Sebab Allah selalu memiliki rencana untuk setiap pertemuan.
Pertemuan, terkadang ia hadir untuk menyempurnakan. Melengkapi apa yang kurang dari dirimu. Pertemuan, terkadang ia datang untuk mendewasakanmu, dengan beragam wujudnya. Menakar keyakinan, juga rasa percayamu. Ia akan selalu mengajakmu untuk mendengarkan dan memahami. Berharap ada hikmah yang dapat engkau petik untuk menjadi yang pantas mendulang berkah.
Wahai diri, jika luka kemudian menghiasi pertemuanmu, tetaplah menyibukkan dirimu dengan kebaikan. Tetaplah bertumbuh dalam kesabaran.
"... Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk" (Quran Surah Hud: 114)
arya.poetra
Jakarta, 6 Ramadhan 1438H











