Menulis Ramadhan #12 - Prasangka

11.04


sumber gambar

Setelah pesawat mendarat, saya pun menuju loket di dekat pintu keluar bandara untuk memesan taksi. Dan setelah menunggu sekian waktu, pintu taksi pun saya buka. Masuk dan menaruh barang-barang, lalu duduk dengan nyaman, mengandalkan pak supir untuk membawa saya ke tempat tujuan.

Di dalam taksi, udara terasa agak dingin untuk saya yang tidak terbiasa (tidak senang sebenarnya) menggunakan AC. Saya melirik pak supir. Pria yang sudah berkeluarga, pikir saya. Dari raut wajahnya, saya beranggapan, bahwa pak supir adalah tipe orang yang bakalan diam selama perjalanan. Ditambah dengan kumisnya yang lebat, dan tekstur kulit di wajahnya yang menyiratkan bahwa ia adalah pria dengan segudang pengalaman dalam hidup.

Taksi melaju dengan tenang. Tidak tergesa.

Keheningan selama perjalanan akhirnya membuat saya gusar. Dan karena penasaran, maka saya pun memutuskan untuk menyapa duluan. Menanyakan, di tahun ini, pak supir bakalan berlebaran dimana. Prasangka saya sebelumnya pun akhirnya runtuh. Kaca cermin  mobil memantulkan raut wajah yang begitu akrab. Lengkap dengan senyuman pak supir yang begitu ikhlas. Sangat terlihat, rasa senang mewarnai ekspresi beliau. Bapak itu pun menjawab pertanyaan saya, bahwa Insya Allah ia akan berlibur di kampung halamannya, Wajo.

Cairnya suasana pun membuat percakapan mengalir dengan sendirinya. Cerita-cerita beliau yang telah menjadi supir selama lebih dari 15 tahun. Akhlak manusia yang seharusnya terhadap pemberian Allah. Jalan-jalan yang dilalui, yang puluhan tahun silam adalah daerah resapan air bagi kota, yang hari ini telah berdiri bangunan-bangunan di atasnya. Sikap konsumtif masyarakat kebanyakan yang jauh dari hidup sederhana dan membiasakan diri untuk berbagi dan mendahulukan orang lain. Kisah-kisah perjuangan hidup. Kesenangan beliau terhadap keputusan ahli-ahli agama negeri ini terkait penetapan awal Ramadhan yang tak lagi berbeda dua tahun terakhir. Hingga ketidakpuasan karena masih banyak mereka yang mengaku ulama, namun tidak bersikap layaknya tuntunan Rasulullah..

Sejenak saya terbayang sifat percakapan para penghuni surga yang tercantum dalam Al Qur'an. Bahwa di sana kelak, tidak akan didapati percakapan yang tidak berguna. Yang ada hanyalah ucapan-ucapan yang baik lagi menyenangkan hati. Jika saat di dunia saja percakapan saya dengan pak supir terasa sebegitu menyenangkannya, bayangkan percakapan di surga kelak. Insya Allah.

Waktu memang bekerja dengan sangat rapi. Beberapa hari yang lalu, saya masih duduk di depan monitor kantor. Berkutat dengan desain-desain arsitektur. Beberapa jam kemudian, tibalah saya di kota kelahiran saya. Ditambah, dipertemukan dengan sebuah diskusi, yang saya percaya disediakan semesta untuk saya jadikan pembelajaran.

Betapa prasangka adalah hal yang paling sering mewarnai keseharian manusia. Ia tidak nampak, dan sekilas terasa menyenangkan bagi manusia yang dihinggapinya. Padahal, ia lah yang akan menjatuhkan hati ke dalam dosa. Prasangka adalah salah satu hal yang paling sering melalaikan hati, karena membuat manusia menilai tanpa ilmu, tanpa tahu apa yang sedang dinilainya.

Sungguh Allah telah mengingatkan kita dalam kitabNya. Bahwa sebagian prasangka itu adalah dosa. Dengannya, bisa jadi kita akan membandingkan. Lalu, tanpa terasa, rasa syukur perlahan menghilang. Ataukah rasa sombong perlahan tumbuh menjadi benalu.

Jika kemudian prasangka tidak baik menghampiri, tepuk pundaknya. Beri isyarat agar ia ke belakang. Biarkan prasangka baik yang berdiri di depan, menggantikan si prasangka buruk.

arya.poetra
Makassar, 27 Ramadhan 1438H

2 komentar

  1. Don't judge book by the cover.

    Ya saya jg kerap mngalami. Mlihat dr fisiknya kelihatannya galak atau krg ramah, tp setelah brbincang bincang, justru menemukan percakapan menarik dn mnggugah.

    BalasHapus

My Instagram