Tampilan Luar atau Nilai Kebenaran?

07.26

Senja menyapa hangat langit Jakarta. Tersenyum, pada jalan-jalan ibukota yang sudah sesak dengan manusia-manusia yang ingin kembali ke peraduannya. Seharian beraktivitas mungkin membuat mereka gerah, maka roda-roda pun dipacu, secepat yang mereka bisa untuk berlomba dengan waktu. Untuk segera bisa merasakan nikmatnya pulang. Untuk segera memenuhi janji. Ataupun untuk menjemput kesempatan-kesempatan yang mungkin pikir mereka takkan berulang.

Roda-roda itu pun meliuk-liuk, mencari setiap celah yang mampu diisi. Terompet pun riuh bersahut-sahutan, entah saling memanggil ataukah saling menghardik. Dan seperti biasa, saya pun menjadi bagian dari keramaian jalanan ibukota di sore hari.

Ada satu detail kecil yang menarik.

Berdiri di persimpangan jalan yang tak memiliki lampu lalu lintas, seorang pria paruh baya dengan peluitnya. Mencoba mengatur lalu lintas kendaraan yang melewatinya. Pun sesekali pernah ada anak muda yang menggantikannya. Kendaraan-kendaraan coba diaturnya, agar masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi ruang. Ya, persimpangan di kala sore adalah salah satu tempat yang penuh dengan kesibukannya sendiri.

Pernah beberapa kali mereka tidak hadir. Mungkin karena kesibukan lain yang harus mereka dahulukan. Pak Polisi pun hadir menggantikan.

Namun, yang menghadirkan tanya, mengapa pada saat Pak Polisi yang menggantikan posisi mereka untuk mengatur, banyak orang yang sepertinya patuh. Seperti ada jari-jari yang menjentikkan bunyi "klik" dan begitu saja mereka terhipnotis. Masuk ke dalam alam kepatuhan. Kendaraan begitu tertata rapi, dan mereka sabar menunggu tanda dari ayunan tangan pria berseragam untuk melanjutkan laju.

Begitu berbeda ketika pria paruh baya ataupun anak-anak muda tadi yang mengatur. Roda-roda itu dengan tak sabarnya mencoba mengambil giliran. Bahkan, perilaku mereka menyebabkan persimpangan menjadi begitu sulit untuk dilalui. Tak jarang, mereka dihadiahi hardikan. Tak becus mengatur katanya, dan berbagai macam alasan lainnya.

Apakah kebenaran, hanya bisa dihargai ketika seseorang berseragam? Ataukah hanya diperlukan sebuah seragam untuk menghipnotis pengguna jalan berada dalam kepatuhan?

Kebenaran, datangnya bisa dari mana saja. Tak peduli latar belakang, agama, status sosial. Bahkan dari pria paruh baya yang tak berseragam. Beliau hanya mencoba membantu agar semua mendapatkan kesempatan yang sama. Jika ditawarkan kepada kita, untuk mengatur lalu lintas, dibawah sengatan matahari dan terpaan debu seperti itu, belum tentu kita bersedia melakukannya. Seharusnya, kita patut bersyukur pada Allah karena di tengah kekacauan lalu lintas persimpangan, ditempatkanNya pria paruh baya itu untuk membantu kita. Dan menghargai beliau adalah salah satu cara kita bersyukur padaNya. Bukankah begitu? Mari melihatnya dari perspektif akhirat.

Jalanan, memang bisa menjadi miniatur yang memperlihatkan jenis dan kualitas karakter banyak manusia. Ada yang sabar, ada yang tidak. Ada yang berpikir panjang, ada yang cuma menurut hawa nafsu. Ada yang santun, dan ada yang kasar.

Aku, kamu, memilih untuk menjadi bagaimana?


Mari terus menjadi baik.
Arya

5 komentar

  1. yah, kirain mau lebih panjang lagi ini tulisan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, namanya macet Tin. Jalannya terasa panjang. Haha

      Hapus
    2. mana ada macet jalannya (terasa) panjang. yang ada gak bisa jalan. :))

      Hapus
    3. Ini bukan soal fisik Tin. Ini masalah rasa. Tsah!

      Hapus
    4. baiklaa..

      nyerahlah kalau sama rasa mah. *angkat tangan :p

      ahaha

      Hapus

My Instagram