Jumat, 26 Agustus 2016

Jumat, 12 Agustus 2016

Talentamu, untuk Akhiratmu

Ambillah sebagian waktumu, lalu duduklah bersama Allah. Bercakap-cakaplah. Mungkin dari percakapanmu, engkau mampu untuk tahu dan mengenali kekuatan serta kelemahanmu. Dan jika kekuatan itu tidak membuatmu lalai dariNya, minta lah pertolonganNya, agar kekuatanmu bertambah. Jika kekuatan itu tidak merusak dirimu, mintalah padaNya agar setiap episode hidup yang diperkenalkanNya padamu makin menajamkan talenta yang sudah dititipkan.

Lalu fokuslah menggunakan kekuatan itu tuk mengabdi pada satu-satunya agama yang diridhoiNya. Lihatlah kesempatan-kesempatan untuk kepentingan akhirat dengan talentamu. Tinggalkan hal-hal yang baik untuk menjadi amal jariyah untukmu kelak. Berjanjilah, untuk menggunakannya memperkuat agama Allah. Karena semua talenta, semua usaha, semua kecerdasan, sejatinya adalah sebentuk upaya dari makhluk yang tak berdaya tuk memohon ampunan Rabbnya yang Maha Merajai segala sesuatunya... Bukankah tujuan dari semua yang dilakukan di dunia ini adalah untuk mendapatkan ampunanNya di padang mahsyar kelak?


Jakarta, 23 Agustus 2016
Nasihat untukku, dan juga untukmu..

Read More

Minggu, 07 Agustus 2016

Rabu, 03 Agustus 2016

Sebaik-baik Rumah


Bergembiralah, karena saat melangkah masuk ke dalam taman-tamannya, akan engkau dapati langit yang begitu luas. Bergantungan di sana, cerita-cerita yang kan merontokkan penat yang engkau bawa selama perjalanan. Petiklah beberapa, lalu duduk dan nikmatilah. Semilir angin kan membuatmu jatuh di tiap hembusan nafas, di tiap untaian kalimat. Rasakan sejuknya. Layaknya bumi yang bertemu musim penghujan, di atasnya kan tumbuh kehidupan, bersamaan dengan bunga-bunga yang terus bermekaran.

Rindu kan mulai bergerak, dari pijak yang engkau kira sudah retak.

Cerialah, karena saat lisanmu mengeja semua cinta yang ada di dalamnya, perlahan engkau akan merasa betah. Engkau berharap, dapat berlama-lama meneguk kesegarannya. Karena sudah terlalu lama engkau terombang-ambing gelombang. Perlahan, akan ada hangat di pelupuk mata. Rindu mu menjadi lebih riuh. Dan pada heningnya, senyummu tertaut pada puisi yang bergema riang.

Rindu perlahan menemukan bentuk sejatinya.
Yaitu ia yang terus berbisik dalam sujudnya..

Kepada hati yang sedang mengeja keyakinan, ingatlah sesering mungkin, pada Rumah yang kan terus memelukmu hangat. Karena ia, tempatmu tuk mengawali setiap perjalanan. Bersamanya, pulanglah tuk berbagi manis.



Al-Qur'an.
Karena ia adalah sebaik-baik rumah bagi hati.
Yang selalu bisa membawamu tuk merindukan kata pulang.
Bersegeralah pulang, teguk kesegarannya. Ketika tiba, nikmatilah.
Karena engkau sedang bermesraan dengan Rabb yang mencintaimu...

Jakarta, 03 Agustus 2016



Read More

Selasa, 02 Agustus 2016

Diam yang Bijaksana


Ada saat dimana mimpi-mimpi begitu ingin bercerita dengan riangnya. Tentang ia yang tetap terjaga dalam lekuk-lekuk senyuman, meski seringkali ada hari yang mengujinya dengan ketidakpastian hati. Tentang ia yang tak pernah lupa tuk mengikat hari dengan doa-doa tak berkesudahan, demi sebuah kebahagiaan di masa depan. Namun ia memilih untuk tidak mengecewakan hati. Ia tetap dalam diam. Hingga tiba saatnya ia mengantongi izin Pemilik Semesta.

Ada saat dimana rasa bahagia begitu inginnya menari dalam kata dan tatapan. Karena langit telah menuntunnya menemukan pasang sayap yang suatu hari kan menerbangkannya tinggi. Menuju Jannah. Tempat berlabuhnya semua cinta, tempat semua kesabaran dan keikhlasan menunggu hadiah-hadiah yang telah dijanjikanNya. Namun ia memilih untuk tidak melangkahi batas. Hingga tiba saat rasa yang sulit terdefinisikan akhirnya diberi izin dariNya tuk medeklarasikan diri di depan semesta.

Ada saat langkah-langkah besar ingin menggarisbawahi dirinya. Bahwa dunia membutuhkannya lebih daripada sekadar menjadi pekerja. Ingin ia berkisah menyoal segala langkah, resiko, serta rasa percaya yang sedang ia bangun. Ingin ia bercerita sebuah pengalaman yang pada akhirnya membuat ia memilih untuk undur diri dari hal-hal yang dapat memperburuk kondisi hati. Namun ia memilih riuh dalam sujud malamnya. Hingga tiba saat, lukisan doanya telah membentuk sebuah gambar utuh di sebuah kanvas maha luas milikNya.

Percayalah.

Ada sebuah batas antara rencana dan sebuah kepastian. Di antara batas itu, biarkanlah hati memilah, mengolah rasa yang sewajarnya untuk setiap derap langkah. Di antara batas itu, biarkanlah lisan berujar seadanya, tanpa menyematkan rasa angkuh yang dapat mengeruhkan jiwa. Di antara batas itu, yang engkau miliki hanyalah doa dan usaha.

Karena kepastian, hanyalah milik Allah.


Jakarta, 02 Agustus 2016



Read More