Jumat, 20 Januari 2017

BERTANYALAH




Ketika disampaikan kebaikan padanya, ada yang terdiam, merenungi, lantas langsung mengamalkan untuk menambal apa-apa yang kurang. Pun ada yang bertanya-tanya, menimbang, dan mengamalkannya kemudian. Tak ketinggalan ada yang begitu angkuh untuk langsung menolak, tanpa bertanya, tanpa merenungi terlebih dahulu. Mengapa bisa berbeda?

Ada yang menjadikan ilmu sebagai target bulanan nya. Menyisihkan sebagian penghasilan untuk memiliki kitab ataupun bertatap muka dengan ulama. Pun ada yang sibuk membuat daftar film-film apa yang akan dinontonnya di bioskop. Lalu, ada yang sibuk menghabiskan waktunya mengerjakan hal yang sia-sia dan merugikan. Mengapa bisa berbeda?

Sebelum menyantap makanan, ada yang sibuk mengambil gambar untuk dipamerkannya ke media sosial. Ada pula yang terpikir, lantas memanggil saudaranya yang belum makan. Makan bersama dengan terlebih dahulu melantunkan kalimat syukur. Mengapa bisa berbeda?

Dalam kesibukan di kantor, ada yang masih sempat mendengarkan lantunan ayat-ayat suci, mendengarkan ceramah, lalu menulis hikmah-hikmah yang didapatkannya. Ada pula yang sibuk berganti-ganti tab, mendengarkan lagu-lagu yang sedang populer akhir-akhir ini. Mengapa bisa berbeda?

Sehelai daun takkan jatuh tanpa izinNya. Kebaikan akan tertanam dan berbuah manis hanya karena kehendakNya. Pun keburukan akan menghampiri dan membuatmu jatuh, semua atas persetujuanNya. Tak ada yang terjadi karena kebetulan. Pertemuan dengan orang-orang yang berbeda denganmu, adalah juga atas kehendakNya. Lantas, mengapa bisa berbeda? Agar kamu dan aku mampu menggunakan akal yang sudah dititipkanNya ini. Karena perbedaan akan mengundang nikmat pertanyaan bagi akal. Pertanyaan-pertanyaan yang akan menemani, mencari mana yang seharusnya dilakukan. 

Menebak-nebak untuk menemukan jawaban akan membawamu berputar pada hal-hal yang tidak penting. Bertanyalah. Akan engkau temukan sesuatu yang kan membuatmu tersenyum. Bertanyalah. Mungkin dengan begitu, kebaikan-kebaikan akan berlari menujumu.

Ry
21 Rabi'ul Akhir 1438 H


Read More

Kamis, 19 Januari 2017

Jiwa yang Berakal


Ada yang memandang dunia begitu penting. Pikiran dan segala yang diperbuatnya menjadikan keceriaan, kesenangan, dan kegembiraan yang dirasakannya di dunia ini tak rela terganggu dan terkotori oleh apapun. Segala cara dilakukan tuk mendapatkannya. Lalu, ketika ditimpa musibah, ia lantas menjadi pribadi yang paling gelisah. Pun menjadi pribadi yang teramat hanyut ketika kesenangannya terenggut. Ia melangkah, dengan terus berpayung awan kekhawatiran. Ia melihat segala kebaikan, dengan penuh rasa curiga. 

Mungkin lupa, bahwa ada rumah keabadian yang akan dituju.
Mungkin masih enggan, tuk menyendiri di sepertiga malamNya.
Mungkin masih, badai kesombongan mengaburkan akal..

Ry
20 Rabi'ul Akhir 1438 H

Read More

Rabu, 18 Januari 2017

Tentang Dua Kelompok




Atas kehendak Allah lah kita berpijak di alam tempat bertemunya dua hal yang saling berlawanan. Alam dimana pandangan hidup beraneka ragam, dan dapat saling bertolak belakang. Ada saatnya, hal-hal yang baik akan bertemu dengan hal-hal yang buruk, begitu juga sebaliknya. Kebahagiaan dan kesedihan adalah sebuah keniscayaan, yang akan hadir silih berganti.

Lalu, karena dua hal yang berlawanan itu kita saling membenci? Karena berbeda pandangan, lalu menjadikan kita tak lagi merapatkan barisan? Dan hanya disebabkan ketidakmampuan tuk mengendalikan diri atas semuanya, lantas menyalahkan?

Ingatkah bahwa setelah semua ini, tiap-tiap jiwa akan dikumpulkan kembali? Jiwa-jiwa akan terbagi dalam beberapa kelompok, lalu mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah dititipkan padanya dahulu. Dan pada akhirnya, tiap-tiap jiwa  akan kembali pada rumah yang berbeda.

Yang bersabar, istiqomah, percaya meski terasingkan, dan rendah hati akan dikumpulkanNya dalam rumah-rumah yang diberkahi. Di sana, berkumpullah segala yang baik. Ucapan-ucapan yang lembut dan menenangkan jiwa.. Aroma wangi yang tak pernah ada sebelumnya.. Dan ketaatan, tawa bahagia, serta kelegaan akan menjadi pemandangan sehari-hari yang menyejukkan.

Yang tinggi hati, tergesa-gesa, yang menyepelekan dan membangkang, dan semua kesombongan akan dikumpulkanNya dalam rumah-rumah yang jauh dari rahmatNya. Berkumpullah di sana segala sesuatu yang buruk. Teriakan-teriakan penyesalan.. Aroma tak sedap yang belum pernah ditemui sebelumnya.. Dan ratapan-ratapan, tangisan serta rasa terhimpit akan menjadi kawan dalam melewati tiap harinya..

Mari merapatkan barisan. Bersama, kita menyatukan langkah. Saling memaafkan, dan meluruskan niat. Aku dan kamu, ingin berkumpul bersama mereka-mereka yang telah dijanjikan rahmat Rabb nya bukan?


Ry.
Jakarta, 19 Rabi'ul Akhir 1438 H

Read More

Selasa, 17 Januari 2017

Bersabarlah Sejenak



Teruslah menyampaikan kabar-kabar gembira. Bahwa Sang Fajar akan datang mengusir gelap dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. Dekapan-dekapan hangat kan segera tiba tuk mengusir gigil. Dan kelapangan akan segera menghampiri dengan berlari, mengganti air mata dengan senyum merekah.

Teruslah menatap langit yang masih menjadi kanvas mimpi. Petiklah beberapa cerita. Duduk dan nikmatilah. Semoga kisah-kisah darinya mampu menjadikan hati menjadi lebih terwarnai. Dan kepada waktu yang masih dapat diajak bersekutu, mari mengembara bersama doa-doa. Sembari berharap sebuah jeda melahirkan percakapan-percakapan yang manis. Percakapan yang mengingatkan, bahwa sebaik-baik pekerjaan adalah menanti kemudahan dengan rasa sabar.

Bertahanlah sedikit lagi.

Bersabarlah sejenak..

Tersenyumlah.


Read More

Minggu, 25 Desember 2016

Berjamaah


foto hasil jepretan pribadi

Adzan yang melantun penuh penghayatan menjadi petanda, bahwa Yang Maha Cinta memanggil. IA rindu. IA ingin saling bertatapan, bercerita, pada anak-anak manusia yang telah IA titipi dunia ini. Dan karena cinta, kegiatan-kegiatan ditunda. Transaksi-transaksi dihentikan sementara.

Masjid pun mulai ramai, satu persatu derap langkah para pejuang datang tuk memakmurkannya. Anak-anak, pemuda, paruh baya, hingga mereka yang mulai memasuki usia senja.. Pedagang, pelajar, karyawan, tukang parkir, hingga mereka yang baru saja mengenal Islam.. Mereka yang fisiknya sempurna, ataupun mereka yang dititipi ketidaksempurnaan fisik..

Sembari menanti, Ruku' dan Sujud penghormatan ditegakkan. Jari jemari terangkat penuh keikhlasan, karena mereka membutuhkannya. Bibir-bibir bergerak, melantunkan ayat-ayat suci, mengagungkan nama-namaNya, pun melesatkan harapan-harapan. Ada yang bersalaman tangan, bercerita layaknya teman sepermainan yang lama tak bertemu. Ada yang melemparkan senyuman, tulus, pada mereka yang baru saja ia temui di hari itu. 

Bagiku, adalah saat-saat yang membahagiakan ketika iqomah telah terlantunkan. Menyaksikan kaki-kaki yang berdiri, melangkah, kemudian merapatkan barisan. Tak mengenal usia, acuh terhadap warna kulit, tidak memandang status sosial. Menghadap arah yang sama, tuk mengekspresikan cinta yang tak biasa.. Tiang agama ditegakkan. Ada cinta dan ketenangan di tiap gerakan. Mengiringinya, ada harap yang melesat. Ada sesal yang mengharu biru. Ada panorama syurga yang menenangkan jiwa. Dan pada rima-rima ayatNya yang indah, ada rindu yang bergerak riang. Ingin berlama-lama hadir tanpa penyamaran. Telinga dimanjakan, dentuman nafas berubah menjadi larik-larik yang indah.

Usai menuntaskan rindu, air mata kembali terangkat.
Usai menuntaskan rindu, tangan-tangan mengepal, membawa genggaman semangat baru.
Usai menuntaskan rindu, rasa pahit perlahan tergerogoti.
Usai menuntaskan rindu, jiwa-jiwa tergenapkan dalam senja yang senada.

Berjamaah itu Indah.
Berjamaah itu menguatkan.
Berjamaah itu merekatkan.


Ry




Read More