Selasa, 21 Februari 2017

Puisi Yang Riuh

Di matamu yang teduh, puisiku menjadi hiruk pikuk. Reranting rindu mulai tumbuh merimbun. Namun rindu bukan untuk dibesar-besarkan. Ia indah dalam diam, dalam doa-doa yang terlantun atas namaNya. Ia erat tergenggam. Menuntun santun, tuk berjalan mendatangi.

#Jakarta pagi ini riuh oleh puisi-puisiNya yang jatuh dari langit. 

Read More

Senin, 20 Februari 2017

Kembali Bahagia


Hujan, mungkin bagimu ia adalah luka. Bersamanya, perih semakin menjadi. Karenanya, langitmu menjadi sedikit kelabu. Namun bukankah karenanya hangat mentari menjadi lebih terasa. Bukankah pada rinai-rinainya ada bukti bahwa Cinta kan selalu mendengarkan.

Lapangkan jiwamu untuk menyambutnya. Biarkan ia menghunjam. Membasuh semua perihmu. Menyamarkan tangismu. Karena ia akan segera beranjak, memberimu ruang tuk bercengkrama bersama pelangi. Ia hanya mampir sejenak tuk menyampaikan salam. Ia hanya mampir sejenak tuk menakar keyakinanmu pada bahagia.

Bukankah bahagia ada di sana, pada hati yang senantiasa terisi dengan lantunan syukur tak berkesudahan. Bukankah bahagia ada bersama kelapangan atas ketidakberdayaan. Dan bukankah bahagia adalah proses menggapai sejuknya keridhoanNya.

Kembalilah (pada) Bahagia.
Kembalikan semua kepadaNya.


Ry
Jakarta, 23 Jumadil Awwal 1438H
Read More

Jumat, 17 Februari 2017

Sunyi



Aku mulai mencintaimu.
Dan jika engkau bertanya sejak kapan, tak dapat kuberikan jawaban pasti untukmu. Mungkin saat hangatmu tiba, kala lukaku serasa begitu menghimpit. Atau mungkin, kala keluhku perlahan menjelma senyuman.

Aku makin mencintaimu.
Jatuh pada caramu menghiburku.
Tersenyum pada caramu menertawai lukaku.
Terus mengingat saat engkau berujar, bahwa sabar itu ganjarannya tak terbatas.

Aku masihlah tak seimbang kala berusaha menghalau badai.
Dan aku masih terbata kala mengeja aksara-aksara langit.

Terimakasih atas hadirmu.
Yang terus mengingatkan bahwa ketidakberdayaan dan kelemahan adalah bagian dari proses. Untuk mendewasakan. Untuk menakar keikhlasan. Untuk mengokohkan jiwa.

Karena aku sedang berjalan menuju kesempurnaan nikmatNya.


Ry
Jakarta, 21 Jumadil Awal 1438H
Read More

Minggu, 05 Februari 2017

Harta




Ada yang pernah berkata, "Harta itu tidak dibawa mati". Benarkah?

Ada yang setuju, pun ada yang tidak. Namun jika ada yang bertanya, aku dan kamu akan memilih membawanya serta. Tidak dengan memikulnya sendirian. Karena aku dan kamu bukanlah yang termasuk kuat dan mampu berjalan sendirian. Akan kita bawa ia berjamaah, dengan menitipkannya ke banyak saudara kita yang lain. Sebagian akan kita titipkan di kotak-kotak amal masjid. Sebagian akan kita titipkan di kantong saudara-saudara yang terlilit utang. Sebagian akan kita titipkan, demi senyum riang para yatim dan renta. Sebagian lagi akan kita titipkan demi membangun ekonomi syariah di tengah-tengah ummat. Atau, sebagian akan kita titipkan untuk mempertemukan wajah-wajah yang begitu merindu Baitullah di Makkah.

Amatilah. Dunia ini menyediakan begitu banyak kantong untuk kita gunakan. Aku dan kamu hanya tinggal memilih yang mana untuk digunakan. Dan sungguh Allah Maha Baik, karena IA tidak memberikan batasan jumlah kantong yang akan kita bawa kelak.

Dan sesampainya kelak di Rumah Kebahagiaan milikNya (Insya Allah), sebagaimana hukum titipan itu wajib dikembalikan, maka akan kita ambil apa-apa yang kita titipkan dahulu. Mungkin beserta tambahan-tambahan kemurahanNya. Mungkin beserta buah-buah dari ranting-ranting kebaikan yang telah bercabang. Atau mungkin kesempatan untuk duduk bersama orang-orang sholeh yang telah terlebih dahulu mendapatkan jaminanNya. Amin..

Mari terus berprasangka baik pada Allah.
Mari terus memberikanNya yang terbaik.


Ry
Jakarta, 8 Jumadil Awwal 1438H

Read More

Jumat, 03 Februari 2017