Cinta yang Kental

21.41

Siang tadi sedikit berhias kelabu. Langit delapan juli hanya membiarkan sedikit sinar mentari menghangatkan bumi. Di kejauhan, adzan berkumandang begitu syahdu. Memanggil riang pada jiwa-jiwa yang merindu. Pertanda, bahwa pertemuan akbar mingguan akan segera dipandu. Jiwa-jiwa pun menyahut, menjawab dengan berbagai rupa. Ada yang melangkah dengan santai, ada pula yang tertatih. Ada yang menyambut dengan suka, pun ada yang menyambut dengan tak peduli. Ada yang tersenyum, ada yang mengumpat.

Kepada engkau yang tak peduli, apakah bagimu caraNya terlalu lama?
Padahal, IA hanya sedang ingin menguji rasa percaya.

Kepada engkau yang enggan, apakah bagimu engkau sudah menggenggam kuasa?
Padahal, IA hanya sedang ingin menguji logika.

Kepada engkau yang menggerutu, apakah menyenangkan bagimu tuk tetap dalam keluh?
Padahal, IA hanya ingin engkau mengalah, tuk lebih berserah.

Dan kepada engkau dengan Cinta yang masih mengental,
tetaplah percaya. Pada IA Penggenggam Hari Esok.
IA takkan pernah membuatmu jatuh terperosok.

Makassar, menyambut Adzan Jumat

*tulisan yang terinspirasi kala perjalanan tuk menyambut shalat Jumat. Melihat seseorang yang berjalan tertatih menyambut kumandang adzan. Karena kondisi kaki yang tak sempurna. Terlihat Cinta nya begitu kental.
Lalu, bagaimana aku dan kamu?

4 komentar

  1. Semangat untuk kaum lelaki muslim menggenggam cinta yang kental dengan shalat Jum'at. I'm proud of you all!

    Btw, pindah ke Makassar, mas Teras Ingatan? Setahu saya kemarin2 postingannya di Tangerang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mba Wenny. Ini sedang mudik ke kampung halaman.

      Hapus
  2. Salam kenal ka, saya juga domisili di Makassar. Tulisan2nya bagus dan mengagumkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Ais. Semoga ada manfaat ya.
      Salam kebaikan.

      Hapus

My Instagram