Hari ini, sesaat setelah kubuka kedua bola mata, aku terdiam memandang sekelilingku. Sebuah dinding berwarna biru yang indah..., Biru yang tak asing lagi bagiku. Biru lembut yang selama ini kutahu mampu menggugah setiap detail rasa yang ada di hatiku. Mengelilingiku, bersama beragam bentuk, dengan bahan yang kupikir sama dengan kembang gula yang menjadi menu khas acara pasar malam waktu aku kecil dahulu. Namun, bukan warna merah muda kali ini. Putih. Putih bersih... Tak jauh di sana, di bawah tempatku berpijak saat ini, kudapati beberapa manusia sedang asyik bersama sebentuk aktivitas mereka masing-masing. Ada yang tertawa..., ada yang terisak...
Tiba-tiba, sang angin berhembus dengan kencangnya. Melayangkan sebuah tamparan dalam asyikku menikmati langit biru di atas atap putih sebuah rumah bernama bumi. Burung-burung camar yang tadinya berjarak sekian meter dariku, kini mendekat, melayangkan cakarnya ke arah pipiku. Sekali..., dua kali..., tiga kali... Rupanya mereka hendak mengusirku dari sini. Tapi, mengapa?
Kalah jumlah dari mereka, aku pun terjatuh dari awan tempat ku berpijak. Tertarik, bersama gravitasi bumi yang semakin lama semakin menarikku kencang. Satu dari mereka kemudian terbang menjauh, lebih tinggi. Kubiarkan kedua bola mata ini lekat mengikuti geraknya. Kudapati di sana ia sedang menunjuk-nunjuk sebuah lorong mimpi yang buntu. Ah, aku mengerti sekarang. Mereka bukan mengusirku, melainkan memberiku isyarat untuk kembali ke bumi, memulai dari awal tuk menemukan jalan mimpiku yang lain. Bukan pada jalan yang buntu dan terputus-putus ini ...
Kini, aku telah di bumi kembali. Tersungkur karena sakit akibat hantaman gravitasi. Perlahan ku coba bangkit, lalu kudapati biru langit yang terefleksi lewat riak-riak air laut di hadapanku... Ada titik-titik cahaya di sana. Berpendar, namun perlahan meredup. Mereka adalah mimpi-mimpi yang kutitipkan pada langit. Kulihat mereka tersenyum penuh arti. Seakan-akan berkata, "Cari jalanmu yang lain, lalu temui kembali kami di sini"... Ya, aku akan menemukanmu kembali. Pasti!
Tiba-tiba, sang angin berhembus dengan kencangnya. Melayangkan sebuah tamparan dalam asyikku menikmati langit biru di atas atap putih sebuah rumah bernama bumi. Burung-burung camar yang tadinya berjarak sekian meter dariku, kini mendekat, melayangkan cakarnya ke arah pipiku. Sekali..., dua kali..., tiga kali... Rupanya mereka hendak mengusirku dari sini. Tapi, mengapa?
Kalah jumlah dari mereka, aku pun terjatuh dari awan tempat ku berpijak. Tertarik, bersama gravitasi bumi yang semakin lama semakin menarikku kencang. Satu dari mereka kemudian terbang menjauh, lebih tinggi. Kubiarkan kedua bola mata ini lekat mengikuti geraknya. Kudapati di sana ia sedang menunjuk-nunjuk sebuah lorong mimpi yang buntu. Ah, aku mengerti sekarang. Mereka bukan mengusirku, melainkan memberiku isyarat untuk kembali ke bumi, memulai dari awal tuk menemukan jalan mimpiku yang lain. Bukan pada jalan yang buntu dan terputus-putus ini ...
Kini, aku telah di bumi kembali. Tersungkur karena sakit akibat hantaman gravitasi. Perlahan ku coba bangkit, lalu kudapati biru langit yang terefleksi lewat riak-riak air laut di hadapanku... Ada titik-titik cahaya di sana. Berpendar, namun perlahan meredup. Mereka adalah mimpi-mimpi yang kutitipkan pada langit. Kulihat mereka tersenyum penuh arti. Seakan-akan berkata, "Cari jalanmu yang lain, lalu temui kembali kami di sini"... Ya, aku akan menemukanmu kembali. Pasti!
sesaat bosan bersama lembar-lembar berlabel Tugas Akhir...
sejenak melayang ke sini, berimajinasi lalu menggoreskan kata.
lalu, kembali lagi, demi mimpi yang kutitip pada langit.



